Purnama Petuk

Purnama Petuk

3petuk

BACAAN SAAT SENGGANG MENJELANG SELEKSI KEPALA SEKOLAH

BACAAN SAAT SENGGANG
MENJELANG SELEKSI KEPALA SEKOLAH KABUPATEN KENDAL
23 – 24 JUNI 2009 di LPMP JAWA TENGAH
Disusun oleh :
Septia Mahareni, Adi Atmaji Mahayoda, Annisa Putri Maharani
SD TANAMREJO KENDAL
Tips dan Trik TPA
Tes Potensi Akademik dianggap sebagai tes yang sulit bagi sebagian besar orang. Namun sesungguhnya, ada beberapa tips dan trik yang dapat membantu anda dalam menghadapi TPA ini. Antara lain adalah :
Satu bulan sebelumnya berlatihlah soal-soal TPA sebanyak mungkin. Dan patuhilah batasan waktu dalam mengerjakan TPA yang ada. Ini penting untuk membiasakan diri anda bekerja cepat menyelesaikan soal-soal tersebut. Jika anda tidak mematuhi batasan waktu tersebut, anda akan terbiasa mengerjakannya dengan santai dan dalam waktu yang lama. Jika ini terjadi, maka ketika anda mengerjakan soal TPA yang sebenarnya, maka anda akan mengalami kesulitan pengaturan waktu. Latihan soal-soal TPA sebanyak-banyaknya akan membuat anda akrab dengan berbagai jenis dan model soal. Analisa anda dalam mengerjakan soal-soal tersebut juga akan meningkat seiring dengan banyaknya latihan yang anda kerjakan.
Dalam tes TPA, tes angka yang diberikan umumnya adalah angka-angka yang bisa dikerjakan tanpa harus menggunakan rumus-rumus matematika tertentu yang rumit. Oleh sebab itu, tak perlu anda menghafal berbagai macam rumus-rumus matematika yang rumit untuk menghadapi tes TPA, karena hal itu justeru akan membebani anda saja. Yang diperlukan adalah logika berpikir terstruktur. Dengan banyak latihan soal, logika berpikir anda akan terbantu untuk semakin terstruktur sehingga memudahkan anda mengerjakan soal-soal serupa dengan cepat dan benar.
Saat anda mengerjakan soal-soal TPA, kondisikan diri anda dalam keadaan konsentrasi penuh. Tapi rileks. Tidak tegang. Tidak panik. Tegang hanya akan membuat energi otak anda cepat terkuras. Panik membuat anda mengerjakan soal secara ceroboh dan terburu-buru. Sehingga mudah terkecoh oleh jawaban yang sekilas benar.
Jangan memperturutkan rasa penasaran anda terhadap satu soal tertentu. Ini sangat berbahaya. Rasa penasaran terhadap satu soal tertentu (biasanya terjadi pada soal-soal numerik atau angka) membuat waktu anda terkuras untuk mengerjakan soal tersebut. Belum lagi energi anda juga turut berkurang secara signifikan. Ditambah lagi emosi juga akan naik, bila ternyata kemudian anda gagal menemukan jawabannya. Ingatlah bahwa setiap butir soal TPA memiliki bobot nilai yang sama. Sehingga jangan membuang-buang waktu untuk sekedar memperturutkan rasa penasaran anda tersebut.
Tes Potensi Akademik (TPA) adalah sebuah tes yang bertujuan untuk mengetahui bakat dan kemampuan seseorang di bidang keilmuan (akademis). Tes ini juga sering dihubungkan dengan kecerdasan seseorang. Tes Potensi Akademik ini juga identik dengan tes GRE (Graduate Record Examination) yang sudah menjadi standar internasional.
Saat ini, TPA telah menjadi tes standar penyaringan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), rekrutmen karyawan swasta, serta karyawan BUMN. Bahkan kenaikan jabatan setingkat manajer di berbagai perusahaan juga mempersyaratkan karyawannya mencapai TPA dengan skor minimum tertentu. Tes Potensi Akademik juga umum dipakai sebagai tes penerimaan mahasiswa untuk jenjang S2 dan S3.
Adapun, Tes Potensi Akademik ini umumnya memiliki empat jenis soal. Yaitu, tes verbal atau bahasa, tes numerik atau angka, tes logika, dan tes spasial atau gambar.
Tes verbal berfungsi untuk mengukur kemampuan seseorang di bidang kata dan bahasa. Tes ini meliputi tes sinonim (persamaan kata), tes antonim (lawan kata), tes padanan hubungan kata, dan tes pengelompokan kata.
Tes angka berfungsi mengukur kemampuan seseorang di bidang angka, dalam rangka berpikir terstruktur dan logis matematis. Tes ini meliputi tes aritmetik (hitungan), tes seri angka, tes seri huruf, tes logika angka dan tes angka dalam cerita.
Tes logika berfungsi mengukur kemampuan seseorang dalam penalaran dan pemecahan persoalan secara logis atau masuk akal. Tes logika ini meliputi tes logika umum, tes analisa pernyataan dan kesimpulan (silogisme), tes logika cerita dan tes logika diagram.
Sedangkan tes spasial atau tes gambar, berfungsi mengukur daya logika ruang yang dimiliki seseorang. Tes ini meliputi antara lain tes padanan hubungan gambar, tes seri gambar, tes pengelompokan gambar, tes bayangan gambar dan tes identifikasi gambar.
Tes Potensi Akademik Hubungan Gambar
Jenis tes ini mengharuskan seorang peserta untuk mencari hubungan atau padanan hubungan gambar yang tepat dari model yang diberikan.
Contoh soal
Carilah padanan (kesetaraan) hubungan gambar berikut ini..

Tes Potensi Akademik Pengelompokan Gambar
Soal-soal yang diberikan dalam jenis tes pengelompokan gambar ini harus dicermati oleh setiap peserta Tes Potensi Akademik. Karena jenis soal dalam tes ini seringkali mengandung banyak jebakan.Ada beberapa jawaban yang sekilas terlihat benar. Dalam jenis soal ini, peserta harus mampu membedakan satu gambar yang tidak identik atau tidak serupa atau tidak masuk dalam kelompok gambar-gambar yang lainnya.
Contoh soal
Carilah gambar yang tidak masuk dalam kelompoknya…

Tes Potensi Akademik Padanan Hubungan Kata
Jenis soal dalam tes ini meminta anda untuk mengidentifikasi atau mencari kesetaraan atau padanan hubungan antar kata yang diberikan. Kesetaraan hubungan ini harus anda analisa secara cermat untuk mendapatkan jawaban yang tepat.
Tes padanan hubungan jenis 1
Pikiran : Otak
A. Buku : Printer. B. Kata-kata : Lisan , C. Komputer : Ketikan, D. Awan : Langit
E. Hujan : Uap
Penyelam laut dalam : Tabung Oksigen
A. Petani : Kerbau
B. Perampok : Topeng muka
C. Penerjun payung : Parasut
D. Polisi : Mobil patroli
E. Burung : Sayap
Tes padanan hubungan jenis 2
Bulan : Bumi Bumi :
A. Tata surya, B. Planet, C. Bintang, D. Matahari , E. Bulan
Platina : Logam Permata :
A. Intan, B. Batu , C. Emas, D. Safir, E. Akik
Tes Potensi Akademik Numerik Seri Angka
Untuk mengerjakan tes numerik seri angka ini, peserta harus mampu menganalisa deret urutan paling logis dan konsisten dari angka-angka yang diberikan. Terkadang seolah ada dua jawaban yang memungkinkan. Namun demikian, sesungguhnya hanya ada satu pilihan jawaban yang benar.
Contoh soal 1
Seri angka : 75 97 60 92 45 selanjutnya…
A. 87, B. 78, C. 102, D. 75, E. 54
Contoh soal 2
Seri angka: 1 5 9 2 6 10 3 selanjutnya…
A. 6 11 4, B. 7 11 4 , C. 7 12 5, D. 6 12 3, E. 8 11 5
Tes Potensi Akademik Numerik Logika Angka
Dalam tes logika angka ini, seorang peserta tes TPA harus mampu membuat penalaran logis terhadap satu atau serangkaian persamaan angka-angka yang ada.
Contoh soal 1
Jika x-y = 1. Dan Xy = 64. Mana pernyataan yang benar berikut ini ?
A. x = y -1, B. x = y64, C. x > y, D. x = 64y, E. y = 1/64x
Contoh soal 2
Nilai m = 4 dan n = -4. Jika p = (-m-n)9 dan q = (-n+n)2 Maka yang benar adalah…
A. p = q, B. p > q, C. p – q = -8, D. q – p = 64, E. q < (p-64)
Tes Potensi Akademik Numerik Angka Dalam Cerita
Dalam tes ini, peserta diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai angka-angka yang dimasukkan dalam sebuah cerita. Peserta harus mampu menganalisa nilai angka secara tepat.
Contoh soal 1
Jika Eko bisa membaca 2 halaman koran tiap x menit. Maka dalam 7 menit eko mampu membaca berapa halaman ?
A. 14/2x, B. 14/x , C. x/14, D. 7/2x , E. 7/x
Contoh soal 2
Kakak beradik bernama Nia, Nanik dan Noeng. Nanik 9 tahun lebih tua dari Nia. Nur 2 tahun lebih tua dari Nanik. Dan bila usia mereka dijumlah akan mendapatkan angka 95. Berapakah usia Nia sekarang ?
A. 26, B. 35, C. 15, D. 24, E. 25

Psikotes Adkudag V
Materi tes ini, merupakan soal yang dikeluarkan oleh fakultas psikologi, Universitas Indonesia, yang seringkali dikeluarkan dalam rangkaian psikotes penerimaan pegawai dalam perusahaan, baik industri, perbankan (BNI/Bank Niaga), penerimaan S2 (TPA) maupun instansi daerah. Pengerjaan soal psikotes model Adkudag V ini dibatasi oleh waktu, untuk itu semakin cepat Anda mengerjakan soal per soal-nya maka semakin banyak soal yang dapat anda selesaikan yang otomatis memperbesar peluang Anda mendapatkan point/nilai. Untuk lolos dan lancar dalam pengerjaan test ini. Penulis biasanya hanya membaca dan sedikit menghafalkan soal dan jawaban tersebut, semalam sebelum testing berlangsung. Berikut ini Tips kupas tuntas soal psikotes Adkudag V:

1. Sutera murni terbuat dari:
a. bulu domba, b. bulu bison, c. tanaman, d. Kepompong ulat
2. Dari keempat negara ini, yang terkecil adalah:
a. Monaco, b. Yordania, c. New Zaeland, d. Siam
3. Karet alam berasal dari:
a. Kulit pohon, b. Getah, c. Akar, d. Daun
4. Anak mulai tertarik pada warna-warni kira-kira waktu berumur:
a. 9 tahun, b. 17 tahun, c. 6 tahun, d. 3 tahun
5. Pabrik rokok Bentoel yang pertama terdapat di:
a. Surabaya, b. Malang, c. Kudus, d. Semarang
6. Hasil kerajinan perak hanya terdapt di:
a. Bali, b. Solo, c. Jepara, d. Yogyakarta
7. Listrik ditemukan oleh:
a. Einstein, b. Edison, c. Volta, d. Thurstone
8. Pohon kinine berasal dari:
a. Portugis, b. Amerika, c. Belanda, d. Indonesia
9. Kopi banyak dihasilkan oleh negara:
a. Indonesia, b. Kuba, c. Brasilia, d. Rusia
10. Air laut paling cepat dijadikan garam kalau:
a. Direbus, b. Didinginkan, c. Disaring, d. Dibakar
11. Unsur-unsur kimia yang mempunya berat jenis terberat ialah:
a. Besi, b. Platina, c. Air raksa, d. Emas
12. Kalau emas dipanaskan akan menjadi:
a. Lebih kuat, b. Lebih kecil.,c. Lebih besar, d. Lebih Ringan
13. Warna-warna cat dapat dicampur karena:
a. Terdiri dari pigmen-pigmen, b. Ringan, c. Ada perekat, d. Terjadi rekasi kimia
14. Orang memakai kaca mata cembung karena bayangan benda yang dilihat jatuh:
a. Di depan retina, b. Di belakan retina, c. Tepat di retina, d. Di atas retina
15. Orang yang terlalu gemuk sebaiknya mengurangi :
a. minum squash, b. makan cabe, c. makan coklat, d. makan kerupuk udang
16. Dari keempat mata uang ini, yang terendah nilainya adalah :
a. Rubel, b. Lira, c. Rupiah, d. Yen
17. Dalam pengiriman barang melalui kapal dijumpai :
a. SOS, b. TNT, c. KPN, d. FOB
18. Dalam memesan tempat di hotel-hotel internasional dipakai istilah:
a. Partisipasi, b. Konfirmasi, c. Transportasi, d. Evaluasi
19. Polar adalah ukuran dari :
a. Logam, b. Cairan, c. Tekanan, d. Kertas
20. Rotman terkenal sebagai :
a. merk rokok, b. Gunung, c. merk mobil, d. pabrik gelas
21. “Oplaag” dijumpai dalam :
a. Distribusi, b. Persuratkabaran, c. Komunikasi, d. Radio
22. 1 (satu) pond sama dengan :
a. 0.1 kg, b. 2 gram, c. 4.54 ons,d. 2 kg
23. Acatosal adalah istilah :
a. Dagang, b. Kimiawi, c. Pabrik, d. Laboratorium
24. Endigo adalah :
a. nama daerah, b. nama orang, c. Cairan, d. warna
25. Yang paling banyak mengandung protein adalah :
a. Beras, b. Ketela, c. Susu, d. telur
26. C.P.A adalah :
a. accountant, , b. asuransi, c. avisi, d. association
27. Synthetic Fibre dapat dibuat dari :
a. Karet, b. Kapas, c. Garam, d. asam-asam
28. Untuk menghangatkan badan orang sering minum :
a. cocal cola, b. cream soda, c. Port, d. frische flag
29. Istila “ASSET” banyak dipakai dalam :
a. accounting, b. management, c. marketing, d. production
30. “4711″ terkenal sebagai merk dari :
a. mobil fiat, b. kain, c. parfum, d. msin hitung
31. 1 (satu) kilowatt sama dengan :
a. 1.36 HP, b. 1 Youle, c. 736 HP, d. 1000 HP
32. 1 (satu) mile sama dengan :
a. 1851 m, b. 1.5 km, c. 1.609 km, d. 1000 m
33. Aerogram adalah
a. benda pos, b. pengukur berat, c. Grafik, d. akrobatik udara
34. 1 (satu) yard sama dengan :
a. 1.1 m, b. 0.9 dm, c. 3 feet, d. 91.4 m,
35. Kyat adalah :
a. Kota, b. mata uang, c. Sungai, d. gunung
36. Intertype adalah istilah :
a. komunikasi, b. alat kantor, c. peperangan, d. percetakan
37. Di dalam sebuah perusahaan biasanya perforator paling sering dipakai di bagian :
a. humas, b. Produksi, c. Adminstrasi, d. pemasaran
38. Knitting factory memperoduksi :
a. terpal, b. Sarung, c. Kaos, d. handuk
39. Pusat pabrik rokok “Camel” berada di :
a. Amerika, b.Inggris,c.Mesir,d. Italia
40. Kanebo adalah :
a. merk kosmetik,b. kota di Jepang,c. merk cita,d. minuman
Tips Kupas Tuntas Soal Psikotes Analog Verbal
Psokotes jenis analog verbal sering dipergunakan sebagai soal materi dapal ujian-ujian PNS, perbankan maupun tes potensi akademik untuk melanjutkan jenjang pendidikan S2. Dalam pengerjaannya, tes analog verbal dibatasi waktu. Sehingga semakin lancar Anda menjawab, semakin banyak materi soal yang Anda selesaikan artinya dengan mengetahui atau bahkan menghafal soal jawab tersebut anda akan semakin cepat tapi tenang dalam mengerjakannya. Berikut ini tips agar Anda dapat lacar mengerjakan soal-soal psikotes analog verbal:
1. nuri : burung = sepat : ?
a. mangkuk, b. ikan, c. Akuarium, d. Merah
2. panas : dingin = suka : ?
a. bekerja, b. tertawa, c. Duka, d. getir
3. putra : putri = dewa : ?
a. Bidadari, b. kayangan, c. Dewi, d. resi
4. kapten : kapal = pilot : ?
a. Udara, b. cepat, c. Pemboman, d. kapal terbang
5. wanita : kebaya = pria : ?
a. Sepatu, b. Baju, c. Topi, d. jas
6. makan : gemuk = kelaparan : ?
a. Makan, b. Kurus, c. Mati, d. dahaga
7. mobil : bensin = kereta : ?
a. perlahan-lahan, b. Kusir, c. Mengendarai, d. kuda
8. gerobag : roda = kacamata : ?
a. Lensa, b. Hidung, c. Melihat, d. teropong
9. siang : matahari = malam : ?
a. Gelap, b. bintang, c. Jauh, d. tidur
10. mejahit : jarum = menebang : ?
a. Pisau, b. daging, c. Pohon, d. kapak
11. teman : kenalan = marah : ?
a. Panas, b. bengis, c. Murka, d. bercahaya
12. besar : lebih besar = lebih besar : ?
a. Raksasa, b. Besar, c. lebih besar, d. paling besar
13. menggerutu : memaki = membohong : ?
a. Buruk, b. Penipu, c. Membual, d. menghukum
14. es : dingin = air : ?
a. basah, b. minum, c. sungai, d. kering
15. kuda : cepat = siput : ?
a. merayap, b. lambat, c. berlendir, d. berumah
16. beras : padi = kacang : ?
a. hijau, b. buah polong-polongan, c. tanah, d. panjang
17. saya : kami = ia : ?
a. Kita, b. Mereka, c. Kalian, d. engkau
18. minum : dahaga = bernafas : ?
a. Sesak, b. paru-paru, c. Kalian, d. engkau
19. enam : delapan belas = dua : ?
a. Delapan, b. empat, c. Dua, d. enam
20. busur : panah = senapan : ?
a. Peluru, b. Laras, c. Tembakan, d. letusan
21. bangau : katak = ular : ?
a. Reptil, b. Bisa, c. Tikus, d. melingkar
22. gelas : susu = piring : ?
a. Batu,b. Bundar, c. Bubur, d. makan
23. ayam : berkokok = kambing : ?
a. Memanggil, b. mengembik, c. padang rumput, d. domba
24. kelakuan : laku = perjalanan : ?
a. Menjalankan,b. berjalan-jalan, c. Jalan, d. berjalan
25. rumah : batu = tungku : ?
a. Pipa, b. Panas, c. Cerobong, d. besi
26. matahari : bulat = balok : ?, c. Kayu, d, bundar
27. cemara : pohon = putih : ?
a. Merah, b. susu, c. Warna, d. bunga
28. menyakiti : menyayangi= melukai : ?
a. Sakit, b. Luka, c. Buruk, d. merawati
29. kenari : burung = kemarahan : ?
a. Kerusakan, b. Perasaan, c. Orang, d. berang
30. bersalah : hukuman = jasa : ?
a. tanda-tanda, b. Anugerah, c. Uang, d. bekerja
31. es : air = air : ?
a. Mendidih, b. Uap, c. Es, d.basah
32. jam tangan : waktu = termometer : ?
a. Iklim, b. derajat, c. Suhu, d. cuaca
33. kanvas : melukis = tanah liat : ?
a. Patung, b. kesenian, c. Membentuk, d. estetik
34. imigrant : tiba = emigrasi : ?
a. Pergi, b. emigrant, c. Asing, d. duduk-duduk
35. psikologi : ilmu = hukum : ?
a. ahli hukum, b. pengadilan, c. Jabatan, d. undang-undang
36. keuntungan : penjualan = kemasyuran : ?
a. Pembelian, b. Penipuan, c. Keberanian, d. jenderal
37. bulan : bumi = bumi : ?
a. Mars, b. Bulan, c. Orbit, d. matahari
38. kesulitan : kelalaian = respons : ?
a. jawab-jawaban, b. Stimuli, c. Efek, d. baik
39. kubus : pyramid = empat persegi : ?
a. Peti, b. Mesir, c. Pentagon, d. segitiga

Mengingat-ingat yuk

Kepala sekolah harus mampu berfungsi sebagai edukator, motivator, administrator, supervisor, leader, entrepreneur, dan climator maker (EMASLEC) (Mulyasa, 2007).
a. kepala sekolah sebagai educator (pendidik)
dalam melakukan fungsinya sebagai edukator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesional tenaga kependidikan di sekolahnya.
menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik, seperti team teaching, moving class, dan mengadakan program akselerasi (acceleration) bagi peserta didik yang cerdas di atas normal.
b. kepala sekolah sebagai motivator
sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan berbagai sumber belajar.
c. kepala sekolah sebagai administrator
secara spesifik, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, mengelola administrasi personalia, mengelola administrasi sarana dan prasarana, mengelola administrasi kearsipan dan mengelola administrasi keuangan. kegiatan tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah.
d. kepala sekolah sebagai supervisor
oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. sergiovani dan starrat dalam mulyasa (2007) mengemukakan bahwa supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari disekolah; agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif.
e. kepala sekolah sebagai leader
kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan , membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas.
f. kepala sekolah sebagai entrepreneur
kepala sekolah sebagai entrepreneur harus mampu memiliki berbagai macam keahlian yang keahliannya itu dapat diteruskannya kepada orang-orang yang dipimpinnya.
g. kepala sekolah sebagai climator maker
kepala sekolah sebagai climator maker harus mampu menyusun berbagai rencana kerja yang kemudian menuangkan dalam bentuk perangkat kerja yang dilaksanakan dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan. iklim yang kondusif akan membantu terwujudnya stabilitas kerja yang tinggi yang pada akhirnya pencapaian berbagai rencana kerja yang telah disusun sebelumnya menjadi lebih efektif dan efisien.
tugas tugas guru adalah seperti tercantum pada Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional Tahun 2003 (pasal 39) bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Pengembangan profesionalisme guru dimulai dari kondisi objektif yang merupakan peta kemampuan profesional menuju ke arah standar kompetensi profesional guru dengan jaminan tertulis dalam bentuk sertifikat.
Rasionalisasi perlunya sertifikasi bagi guru adalah Undang-undang No. 20 Tahun 2003 pasal 39 sampai dengan No 44, globalisasi pendidikan dan pemberlakuan standar nasional pendidikan (PP. No. 15 Tahun 2005).
Ruang lingkup sertifikasi guru ditegaskan dalam PP. No. 19 Tahun 2005 pada bab VI pasal 28 berikut : Pendidik harus memilki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memeilki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (ayat 1). Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijzah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku (ayat 2). Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.
Amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik. Sehubungan dengan hal tersebut Menteri Pendidikan Nasional menetapkan Peraturan Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan untuk mengatur pelaksanaan uji kompetensi guru. Uji kompetensi tersebut dilakukan melalui penilaian portofolio untuk memperoleh sertifikat pendidik.
Pelaksanaan sertifikasi ini dilakukan dengan menggunakan komponen portofolio sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan. Komponen portofolio tersebut meliputi; kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi akademik, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan dan keagamaan.
No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI);
No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL);
No. 24 tahun 2006 dan No. 6 tahun 2007 tentang Pelaksanaan SI dan SKL;
No. 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah;
No. 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah;
No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru;
No. 18 tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan;
No. 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan;
No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian;
No. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana Prasarana; dan
No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses.
PP 42 tahun 2009 tentang pemberian gaji/ pensiun bulan ke-13
PP No.37 tahun 2009 tentang dosen
Perbup Kendal No 23 tahun 2009 tentang pedoman seleksi KS
Perbub No 29 tahun 2009 tentang pedoman seleksi pengawas sekolah
PP No.41 tahun 2009 tentang tunjangan profesi guru dan dosen.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);
Peraturan Menteri pendidikan nasional Republik indonesia Nomor 13 tahun 2007 Tentang Standar kepala sekolah/madrasah Permen Pendidikan Nasional No 13 tahun 2007 tentang kompetensi KS
Berdasarkan surat Dirjendikdasmen No.1321/c4/MN/2004 tentang Pengkajian Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) atau Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) Kurikulum 2004 dan sesuai dengan pelaksanaan Standar Isi, yang menyangkut masalah Standar Kopetensi (SK) dan Kopetensi dasar (KDmaka sesuai dengan petunjuk dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006, maka dipandang perlu setiap sekolah-sekolah untuk menentukan Standar Ketuntasan Minimal (KKM)-nya masing-masing sesuai dengan keadaan sekolah dimana sekolah itu berada
pasal 19 PP No. 19 tahun 2005 dinyatakan bahwa “proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.
Prinsip-prinsip pengembangan silabus adalah
1. Ilmiah , 2. Relevan , 3. Sistematis , 4. Konsisten, 5. Memadai, 6. Aktual dan Kontekstual, 7. Fleksibel, 8. Menyeluruh.
Komponen silabus adalah sebagai berikut:
1. Standar Kompetensi, Sesuai dengan yang tercantum dalam Permen No. 22 tahun 2005 tentang Standar Isi
2. Kompetensi Dasar, Sesuai dengan yang tercantum dalam Permen No. 22 tahun 2005 tentang Standar Isi
3. Materi Pokok/Pembelajaran, Mengidentifikasi materi pokok mempertimbangkan:
(potensi peserta didik; relevansi dengan karakteristik daerah;tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik); b. kebermanfaatan bagi peserta didik; c. struktur keilmuan; d. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran; relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
f. alokasi waktu.
Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1952 tentang Hukuman Jabatan dipandang tidak
sesuai lagi,
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 30 tahun 1980 tentang peraturan disiplin pegawai negeri sipil presiden republik indonesia.
Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah peraturan yang mengatur kewajiban, larangan, dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau larangan dilanggar oleh Pegawai Negeri Sipil ;
pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan Pegawai Negeri Sipil yang melanggar ketentuan Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja;
hukuman disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan kepada Pegawai Negeri Sipil karena melanggar Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil;
pejabat yang berwenang menghukum adalah pejabat yang diberi wewenang menjatuhkan hukuman disiplin Pegawai Negeri Sipil;
atasan pejabat yang berwenang menghukum adalah atasan langsung dari pejabat yang berwenang menghukum;
perintah kedinasan adalah perintah yang diberikan oleh atasan yang berwenang mengenai atau yang ada hubungannya dengan kedinasan;
peraturan kedinasan adalah peraturan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang mengenai kedinasan atau yang ada hubungannya dengan kedinasan.
Tingkat Hukuman disiplin terdiri dari :
a. hukuman disiplin ringan;
b. hukuman disiplin sedang; dan
c. hukuman disiplin berat.
Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari :
a. tegoran lisan;
b. tegoran tertulis; dan c. pernyataan tidak puas secara tertulis.
Jenis hukuman disiplin sedang terdiri dari :
a. penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun;
b. penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun; dan
c. penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu) tahun.
Jenis hukuman disiplin berat terdiri dari :
a. penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama 1 (satu) tahun;
b. pembebasan dari jabatan;
c. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai pegawai Negeri Sipil; dan
d. pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.
penilaian pembelajaran siswa. Dalam paradigma lama, penilaian pembelajaran lebih ditekankan pada hasil (produk) yang cenderung hanya menilai kemampuan aspek kognitif, dan kadang-kadang direduksi sedemikian rupa melalui bentuk tes obyektif. Sementara, penilaian dalam aspek afektif dan psikomotorik kerapkali diabaikan.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia.
Dalam implementasi proses belajar mengajar guru harus mampu mengembangkan budaya organisasi kelas, dan iklim organisasi pengajaran yang bermakna, kreatif dan dinamis, bergairah, dialogis sehingga menyenangkan bagi peserta didik sesuai dengan tuntutan Undang-Undang Sisdiknas (UU No. 20 Tahun 2003 pasal 40 ayat 2 a).
Manajemen berbasis sekolah (MBS) School Based Management, adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk me-redisain pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada Kepala Sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah merubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal (lokal stakeholder)(Chapman, J, 1990).
Lesson Study bertujuan meningkatkan efektivitas belajar siswa. Dalam melakukan pengamatan beberapa guru berkolaborasi dalam kelompok kecil. Seluruh anggota tim terlibat dalam perencanaan, melaksanaan pembelajaran, mengoboservasi, dan mengamati dengan kritis cara belajar. Sukses lesson study diukur dengan indikator guru belajar, bukan dari seberapa keterpenuhan syarat kegiatan belajar. Kesempurnaan kegiatan mengukur bagaimana proses bukan pada tujuan. Sukses guru dalam bekerja kelompok ditentukan oleh keberhasilan merumuskan perencanaan, pengamatan, dan membahas data hasil pengamatan.
Kegiatan lesson study bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan professional guru. Yang menarik dalam kegiatan ini adalah memanfaatkan kepakaran para guru melalui kegiatan kerja sama untuk memperbaiki kinerja mengajar dengan memanfaatkan hasil pengamatan pelaksanaan tugas mengajar dalam pelaksanaan tugas yang sesungguhnya.
Faktor yang mempengaruhi perwujudan pengelolaan kelas yaitu :
a. Kurikulum
Kurikulum kaitannya dengan pengelolaan kelas haruslah di rancang sebagai jumlah pengalaman edukatif yang menjadi tanggung jawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana dan terarah serta terorganisir, karena kegiatan kelas bukan sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah materi pelajaran atau pengetahuan yang bersifat intelektualistik, akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk individual dan makhluk social maupun sebagai makhluk yang bermoral.
b. Gedung dan Sarana Kelas / Sekolah
Perencanaan dalam membangun sebuah gedung untuk sebuah sekolah berkenaan dengan jumlah dan luas setiap ruangan, letak dan dekorasinya yang harus disesuaikan dengan kurikulum yang dipergunakan.
c. Guru
Guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang bertanggung jawab dalam membantu anak dalam mencapai kedewasaan masing-masing.
d. Murid
Murid sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan (Sense Of kolektive) merupakan kondisi yang sangat penting artinya bagi terciptanya kelas yang dinamis. Oleh karena , setiap murid harus memiliki perasaan diterima (Sense of membershif) terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan kelas. Perasaan inilah yang akan menumbuhkan rasa tanggung jawab (Sense of respsibility) terhadap kelasnya.
e. Diamika kelas,
Kelas adalah kelompok sosial yang dinamis yang harus dipergunakan oleh setiap wali atau guru kelas untuk kepentingan murid dalam proses kependidikannya.
McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia.
Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia.
Abraham Maslow kebutuhan akan rasa aman (safety needs), Kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs), Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), Kebutuhan untuk pemenuhan diri (self-actualization),
Menurut Freud perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsitem dalam kepribadian manusia :
Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat manusia hewani.
Ego berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas dunia luar. Ego adalah mediator anatara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego dapat menundukan manusia terhadap hasrat hewaninya.
Superego adalah polisi kepribadian, mewakili yang ideal. Superego adalah hati nurani (conscience) yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultural masyarakatnya. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak berlainan ke alam bawah sadar.
Dalam psikoanalisis perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (Id), komponen psikologis (ego), dan komponen sosial (superego).
Teori Behaviorisme Adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan.Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus).
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Edward Edward Lee Thorndike (1874-(1874-1949))
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936)
Teori pelaziman klasik
Adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan.
Skinner (1904-1990)
Skinner menganggap reward(penghargaan) dan rierforcement(peneguhan) merupakan factor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.
Albert Bandura (1925-sekarang)
Ternyata tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar.
Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.
sertifikasi adalah pemberian sertifikat kompetensi atau surat keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi
Ada beberapa kreteria penetapan KKM diantaranya :1. Kompleksitas indikator ( kesulitan dan kerumitan), 2. Daya dukung ( sarana dan prasarana yang ada, kemampuan guru, lingkungan, dan juga masalah biaya), 3. Intake siswa ( masukan kemampuan siswa )
Tujuh Komponen CTL
KONSTRUKTIVISME, Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal, Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
INQUIRY, Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
QUESTIONING (BERTANYA), Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
LEARNING COMMUNITY (MASYARAKAT BELAJAR), Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar, Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri, Tukar pengalaman, Berbagi ide
MODELING (PEMODELAN), Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar, Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
REFLECTION ( REFLEKSI), Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari, Mencatat apa yang telah dipelajari
Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
AUTHENTIC ASSESSMENT (PENILAIAN YANG SEBENARNYA), Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa, Penilaian produk (kinerja), Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Ktsp terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru.
Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran), dan evaluasi rencana pembelajaran
Prinsip Pengembangan Silabus
1. Ilmiah, Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan , Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
3. Sistematis, Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten, Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai, Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan kontekstual, Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel, Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh, Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotor).
Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan bagian dari perencanaan proses pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.
Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.
Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran.
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal.
Tujuan pengajaran akan terlihat dalam keluaran hasil belajar. Dengan katalain, tercapai tidaknya tujuan dapat dilihat dari keluaran hasil belajar. Gagne (1979:49-56) memerinci keluaran hasil belajar sebagai berikut:
1. Keterampilan intelektual (Intelectual skills) Keterampilan intelektual adalah ecakapan yang membuat seseorang berkompeten, yang memungkinkan untuk menanggapi konseptualisasilingkungannya. Keterampilan ini berkaitan dengan pengetahuan
“bagaimana” (bukan pengetahuan”apa”) melakukan aktivitas. Ada empat subkategori, yaitu (a) pembedaan (discrimination), (b) konsep (concepts), (c) aturan (rules), (d) aturan tingkat tinggi (higher-order rules).
2. Strategi kognitif (Cognitives strategies) Strategi kognitif merupakan kecakapan khusus yang memungkinkan siswa dapat belajar dan menentukan sesuatu secara sendiri, misalnya belajar bagaimana belajar yang paling cocok untuk dirinya sendiri.
3. Informasi Verbal (Verbal information) Informasi verbal adalah hasil belajar yang berupa informasi dan pengetahuan verbal. Informasi itu dapat dibedakan ke dalam fakta, nama, prinsip, dan generalisasi.
4. Keterampilan motor (motor skill) Keterampilan motor adalah keluaran belajar yang berkaitan dengan gerakan otot, misalnya berdeklamasi
5. Sikap (attitudes) Sikap merupakan sejumlah bentuk keluaran belajar yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti toleransi, suka membaca, mencintai sastra, kesediaan
bertanggung jawab.
Bloom dkk. Membedakan keluaran belajar ke dalam tiga ranah (domain), yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor
1.Ranah Kognitif berkaitan dengan pengetahuan/ kemampuan intelektual. Kemampuan ini meliputi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2. Ranah Afektif meliputi perasaan, nada, emosi, dan variasi tingkatan penerimaan dan penolakan terhadap sesuatu.
3. Ranah Psikomotor berkaitan dengan gerakan-gerakan otot, misalnya pengucapan lafal bahasa.
Gibss, kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas, pengarahan diri, dan pengawasan yang tidak terlalu ketat.
Callahan dan clark mengemukakan motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu.
Maslow kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, kebutuhan akan rasa harga diri, kebutuhan akan aktualisasi diri
Secara garis besar alat penilaian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tes dan non-tes. Alat yang berupa non-tes dapat berupa (1) skala bertingkat (untuk mengukur sikap, pendapat, keyakinan, dan nilai, (2) wawancara, dan (3) pengamatan. Skala yang umum dikenal adalah Skala Likert.
Alat tes dapat dibedakan menjadi berbagai macam, bergantung dari segi mana kita akan membedakannya. Ada tes buatan guru, ada tes standar. Ada tes pengukur keberhasilan, yang meliputi (1) tes kemampuan awal: (a) pretes, (b) tes prasyarat, (c) tes penempatan. (2) Tes Diagnostik, (3) tes Formatif, dan (4) tes sumatif. Berdasarkan bentuknya, dibedakan tes esai dan tes objektif, yang masing-masing masih dapat diperinci lagi.
Belajar tuntas (mastery learning) adalah filosofi pembelajaran yang berdasar pada anggapan bahwa semua siswa dapat belajar bila diberi waktu yang cukup dan kesempatan belajar yang memadai. Selain itu, dipercayai bahwa siswa dapat mencapai penguasaan akan suatu materi bila standar kurikulum dirumuskan dan dinyatakan dengan jelas, penilaian mengukur dengan tepat kemajuan siswa dalam suatu materi, dan pembelajaran berlangsung sesuai dengan kurikulum. Dalam metoda belajar tuntas, siswa tidak berpindah ke tujuan belajar selanjutnya bila ia belum menunjukkan kecakapan dalam materi sebelumnya.
Belajar tuntas berdasar pada beberapa premis, diantaranya: Semua individu dapat belajar, Orang belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda, Dalam kondisi belajar yang memadai, dampak dari perbedaan individu hampir tidak ada, Kesalahan belajar yang tidak dikoreksi menjadi sumber utama kesulitan belajar.
Belajar tuntas tidak berhubungan dengan isi topik, melainkan hanya dengan proses penguasaannya. Metoda ini berdasar pada model yang dibuat oleh Benjamin S. Bloom, dengan penyempurnaan oleh James H. Block. Belajar tuntas dapat dilakukan melalui pembelajaran kelas oleh guru, tutorial satu per satu, atau belajar mandiri dengan menggunakan materi terprogram. Dapat dilakukan menggunakan pembelajaran guru secara langsung, kerjasama dengan teman sekelas, atau belajar sendiri. Di dalamnya diperlukan tujuan pembelajaran yang terumuskan dengan baik dan disusun menjadi unit-unit kecil secara berurutan.
Modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metoda, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri.
Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek, kejadian, kegiatan, atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama (Croser, 1984).
Tujuh dimensi konsep menurut Flavell (1970) adalah atribut, struktur, keabstrakan,
keinklusifan, generalitas/keumuman,ketepatan kekuatan atau power.
Menurut teori Ausubel (1968), individu memperoleh konsep melalui dua cara, yaitu melalui formasi konsep dan asimilasi konsep. Formasi konsep menyangkut cara materi atau informasi diterima peserta didik. Formasi konsep diperoleh individu sebelum ia masuk sekolah, karena proses perkembangan konsep yang diperoleh semasa kecil termodifikasi oleh pengalaman sepanjang perkembangan individu. Formasi konsep merupakan proses pembentukan konsep secara induktif dan merupakan suatu bentuk
belajar menemukan (discovery learning) melalui proses diskriminatif, abstraktif dan diferensiasi. Contoh pemerolehan konsep pada anak adalah ketika anak melihat benda atau orang yang ada di lingkungan terdekatnya. Misalnya, pada saat seorang anak yang baru berumur 2 tahun memanggil Bapak dan Ibunya pertama kali karena setiap hari Bapak dan Ibunya selalu bersama-sama anak tersebut. Anak menyebut diri yang memandikan dan meninabobokkan saat tidur adalah Ibu dan menggendong serta mengajaknya bermain adalah Bapak.
KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH
1. Kepribadian
a. Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.
b. Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
c. Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah.
d. Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.
e. Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/madrasah.
f. Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.
2. Manajerial
a. Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan.
b. Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan.
c. Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/
d. madrasah secara optimal.
e. Mengelola perubahan dan pengembangansekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.
f. Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
g. Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara h. optimal.
i. Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
j. Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/madrasah.
k. Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.
l. Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
m. Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
n. Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/ madrasah.
o. Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.
p. Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
q. Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
r. Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
3. Kewirausahaan
a. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.
b. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.
c. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.
d. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.
e. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.
4. Supervisi
a. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
b. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
c. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan
d. profesionalisme guru.
5. Sosial
a. Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah
b. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
c. Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.
Kompetensi Guru menurut Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu :
Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c)pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.
Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.
8 standar guru : Standar kompetensi, Standar mental: mental yang sehat, mencintai/mengasihi, mengabdi, dan memiliki dedikasi yang tinggi pada tugas dan jabatan, Standar moral: memiliki budi pekerti luhur dan sikap moral yang tinggi.
Standar sosial: memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan bergaul dengan masyarakat di lingkungannya, Standar spiritual: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME yang diwujudkan dalam ibadah dalam kehidupan sehari-hari, Standar intelektual: memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memjadai agar dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik dan professional, Standar fisik: sehat jasmani, berbadan sehat, tidak mengidap penyakit menular yang membahayakan dirinya, pesertadididk, dan lingkungannya, Standar psikis: guru harus sehat rohani, tidak mengidap gangguan jiwa atau kelainan yang dapat mengganggu pelaksanaan tugas profesionalnya
Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:
( a. standar isi; b. standar proses; c. standar kompetensi lulusan; d. standar pendidik dan tenaga kependidikan; e. standar sarana dan prasarana; f. standar pengelolaan; g. standar pembiayaan;dan h. standar penilaian pendidikan ).
Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka dan hangat dengan prinsip tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada… di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan.
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekpresikan diri sesuai dengan kebutuhan , bakat dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
Visi gambaran sekolah yang diinginkan di masa depan. Hekgeson visi merupakan kristalisasi dan intisari dari suatu kemampuan, kebolehan dan kebiasaan dalam melihat. ,menganalisis dan menafsirkan.
Peningkatan profesionalisme guru melalui PKG,KKG diarahkan untuk mencari berbagai pengalaman mengenai metodologi, pembelajaran dan bahan ajar yang dapat diterapkan di dalam kelas.
MPMP dan MKKS yang dilakukan secara intensif dapat dijadikan sebagai wahana pengembangan diri guru dan kepala sekolah untuk untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan serta menambah pengetahuan dan ketrampilan masing-masing.
TQM suatu sistem manajemen yang berfolus kepada orang yang bertujuan untuk meningkatkan secara berkelanjutan kepuasan customer pada biaya sesungguhnya yang secara berkelanjutan terus menerus.
Implementasi KBK merupakan pengembangan kurikulum pada tingkat lembaga yang akan bermuara pada pengembangan kurikulum pada tingkat bidang studi dan pelaksanaan proses pembelajaran.

ringkasan PTK kls 5 SD

PENGGUNAAN ALAT PERAGA BILANGAN PECAHAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA KELAS V SD NEGERI BISMO DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN PENJUMLAHAN BILANGAN PECAHAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Ilmiah ini.
Penulisan Karya Ilmiah ini penulis susun sebagai tugas dalam rangka seleksi kepala sekolah tingkat Kecamatan Blado . Penulisan Karya Ilmiah ini sangat berguna bagi penulis sebagai pedoman untuk meningkatkan kemampuan siswa, baik ranah kognitif, afektif maupun psikomotor .
Keberhasilan penulisan Karya Ilmiah ini atas bantuan dan dorongan berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ari Pratomo, S.Pd. selaku Kepala UPT Disdikpora Kecamatan Blado yang telah memberi izin kepada penulis untuk mengikuti Program S1 PGSD UT .
2. Priyana, S.Pd. selaku Kepala SD Negeri Bismo yang telah memberi izin kepada penulis untuk mengadakan praktik mengajar .
3. Teman-teman sejawat yang telah membantu mengumpulkan data dalam penulisan laporan ini .
Mohon kritik dan saran bagi siapa saja yang membacanya .

Batang, 10 Februari 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Identifikasi masalah
Berdasar hasil tes formatif mata pelajaran Matematika pokok bahasan penjumlahan bilangan pecahan yang dilaksanakan di Kelas V SD Negeri Bismo, hanya 5 siswa dari 17 siswa yang dapat menguasai materi pembelajaran sebesar 75% ke atas atau yang mendapat nilai 75 ke atas. Sedangkan 12 siswa nilainya kurang dari 75 sehingga belum tuntas dalam belajar serta rata-rata nilainya 59,58. Sedang target yang ingin dicapai 75% siswa menguasai materi.
Berdasarkan hasil reflektif tersebut diketahui beberapa kekurangan siswa dalam pembelajaran, yaitu :
1. Siswa kurang memperhatikan pelajaran.
2. Siswa belum menguasai konsep tentang bilangan.
3. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran.
4. Siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal latihan.
5. Siswa mengerjakan soal dengan tergesa-gesa.

B. Analisis Masalah
Perilaku siswa tersebut di atas kurang mendukung keberhasilan dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar yang diperoleh juga masih rendah dalam pokok bahasan penjumlahan bilangan pecahan. Dari kurang berhasilnya siswa tersebut, diketahui bahwa proses pembelajaran yang dilakukan penulis belum efektif. Untuk mengetahui secara rinci sebab-sebab kekurangberhasilan siswa tersebut, penulis melakukan refleksi diri.
Berdasarkan hasil reflektif tersebut diketahui bahwa faktor penyebab siswa kurang menguasai materi yang diajarkan adalah :
1. Guru membahas materi terlalu cepat.
2. Bahasa guru sulit dipahami siswa.
3. Guru tidak melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
4. Guru tidak menggunakan alat peraga yang menarik.
5. Guru kurang memberikan contoh dan latihan soal-soal.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan analisis masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut : Apakah penggunaan alat peraga bilangan pecahan dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas V SD Negeri Bismo dalam Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Penjumlahan bilangan pecahan sehingga dapat meningkatkan prestasi dengan baik ?.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran matematika yang efektif akan dapat membantu siswa mencapai tujuan yang diharapkan. Pembelajaran yang efektif menuntut guru untuk memahami dengan baik hakekat dan tujuan pembelajaran, terutama pembelajaran maematika, terampil memanfaatkan media pembelajaran, serta menerapkan berbagai metode pembelajaran, terutama metode ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab.

A. Pembelajaran Matematika yang Efektif
Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya yang sudah diterima sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas (Kurikulum KBK 2004 : 13).
Jerome S.Bruner (dikutip Gatot Muhsetyo,dkk,2008) menekankan bahwa setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa atau benda di dalam pikirannya dapat dinyatakan sebagai proses belajar. Bruner membagi menjadi tiga tahapan yaitu: tahap enaktif, ikonik dan simbolik.
Penerapan ketiga tahapan tersebut dalam kegiatan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :
a. Tahap pertama dimulai dengan menggunakan benda/model konkrit di sekitar anak seperti dalam penjumlahan dengan membawa pensil, lidi, sedotan, buku dan lain-lain.
b. Tahap ikonik dengan menggunaka model semi konkrit (model gambar) seperti gambar buku, pensil, kelereng dan sebagainya. Atau menggunakan model semi abstrak (model diagram) yang menggunakan tanda-tanda tertentu misalnya menggunakan turus (tally), bundaran dan lain sebagainya.
c. Tahap simbolik menggunakan simbol secara abstrak dan mereka akan dapat mengerti arti tiga, arti empat tanpa bantuan apa-apa. Tahap terakhir merupakan wujud dari pembelajaran matematika sebagai bahasa simbol yang padat arti dan bersifat abstrak.

B. Pemanfaatan Media Pembelajaran yang Efektif
Kata media berasal dari bahasa latin “medius” yang berarti tengah perantara atau pengantar.
Oleh karena itu agar pembelajaran efektif maka guru perlu menggunakan media yang sesuai dengan materi pelajaran, mudah mendapatkannya juga mudah menggunakannya. Selain itu dengan media penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, proses belajar menjadi lebih jelas dan menarik, pembelajaran menjadi efektif yaitu akan terjadinya komunikasi dua arah secara aktif antara guru dan siswa.(Ardiani Mustikasari,2009)

C. Demonstrasi yang Efektif
Metode demonstrasi sangat baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara/ benda dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Oleh karena itu agar pembelajaran efektif pelaksanaan demonstrasi juga harus dilaksanakan secara efektif, yaitu guru harus mempersiapkan segala alat demonstrasi dengan lengkap, memperhitungkan ketersediaan waktu, dan hendaknya menjangkau seluruh siswa untuk bisa melaksanakan demonstrasi.

BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

A. Subjek Penelitian
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di Kelas V SDN Bismo, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Siswa Kelas V ini berjumlah 17 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan yang berumur antara 10-12 tahun. Sebagian besar orang tua siswa adalah petani dengan penghasilan yang pas-pasan dan dengan fasilitas kehidupan yang sangat sederhana. Kondisi ini menyebabkan perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya kurang dan motivasi belajar siswa rendah. Peneliti adalah guru Kelas V SD Negeri Bismo dan pengamat adalah Bape Kardiman rekan guru SDN Bismo

B. Rencana Tindakan.
1. Waktu Penelitian.
Penelitian dilaksanakan dalam bulan Januari sampai Februari 2011
2. Deskripsi Persiklus.
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut:
Tabel 3. Kegiatan persiklus.
Siklus Pertemuan SD/Kelas Hari/tanggal Waktu
I 1 SD Bismo Kelas V Selasa 11 Januari 2011 08.05-09.45
2 SD Bismo Kelas V Selasa 18 Januari 2011 08.05-09.45
II 1 SD Bismo Kelas V Selasa 25 Januari 2011 08.05-09.45
2 SD Bismo Kelas V Selasa 1 Februari 2011 08.05-09.45

3. Prosedur Penelitian.
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
3.1. Siklus I
a. Perencanaan.
Pada tahap ini penulis menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi pokok Penjumlahan Bilangan Pecahan dengan indikator :
1. Menjumlahkan dua bilangan pecahan biasa yang berpenyebut sama
2. Menjumlahkan bilangan pecahan campuran dengan pecahan biasa
b. Pelaksanaan.
Pada pelaksanaan pembelajaran siklus I peneliti menggunakan alat peraga pecahan untuk memperjelas materi pembelajaran dan mengatasi kebosanan pada siswa. Penelitian tindakan kelas pada siklus I ini akan dilaksakan dalam 2 x pertemuan sebagai berikut:
I. Pertemuan I (dilaksanakan pada hari Senin tanggal 11 Januari 2011).
Kegiatan yang dilaksanakan pada pertemuan I antara lain:
1. Siswa mengerjakan soal-soal preetest.
2. Guru menyiapkan alat peraga pecahan
3. Guru dan siswa bertanya jawab tentang bilangan pecahan.
4. Guru mendemonstrasikan cara menjumlahkan dua bilangan pecahan biasa memakai alat peraga.
5. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok
6. Guru membagi LKS, serta menyuruh mengerjakan secara kelompok.
7. Tiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya dengan dipandu oleh guru.
8. Guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan.
II. Pertemuan II (dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 18 Januari 2011).
Kegiatan yang dilaksanakan pada pertemuan II ini antara lain :
1. Guru menjelaskan cara mengubah pecahan biasa ke pecahan campuran dan sebaliknya
2. Guru menjelaskan cara menjumlahkan bilangan pecahan campuran dengan pecahan biasa.
3. Guru memberikan tugas kepada siswa secara bergiliran untuk menjumlahkan bilangan pecahan campuran dengan pecahan biasa yang berpenyebut sama menggunakan alat peraga bilangan pecahan.
4. Tanya jawab tentang penjumlahan pecahan campuran dengan pecahan biasa.
5. Guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan.
6. Siswa mengerjakan soal-soal posttest.
7. Guru melakukan refleksi diri .
c. Pengamatan (observasi)
Pengamatan dilakukan oleh pengamat dengan mengamati kegiatan pembelajaran menggunakan lembar observasi.
d. Refleksi
Dilakukan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan proses dan hasil yang diperoleh dari tindakan yang telah dilakukan. Melakukan analisis terhadap temuan-temuan yang berupa hambatan, kekurangan, dan kelemahan yang dijumpai selama pelaksanaan siklus I sebagai masukan untuk siklus II.

3.2.. Siklus II
a. Perencanaan.
Pada tahap ini penulis menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi pokok Penjumlahan Bilangan Pecahan dengan Indikator sebagai berikut :
1. Menjumlahkkan bilangan pecahan biasa dengan pecahan campuran.
2. Menjumlahkan pecahan campurandengan bilangan pecahan campuran.
b. Pelaksanaan.
Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II peneliti menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual dengan variasi beberapa metode pembelajaran dan menggunakan alat peraga bilangan pecahan untuk memperjelas materi pembelajaran dan mengatasi kebosanan pada siswa. Penelitian tindakan kelas pada siklus II ini akan dilaksakan dalam 2 x pertemuan sebagai berikut:
I. Pertemuan I (dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 25 Januari 2011).
Kegiatan yang dilaksanakan pada pertemuan I Siklus II antara lain:
1. Guru mendemonstrasikan penjumlahan bilangan pecahan menggunakan alat peraga bilangan pecahan.
2. Tanya jawab tentang penjumlahan bilangan pecahan biasa dengan bilangan pecahan campuran.
3. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok.
4. Guru membagikan lembar kegiatan diskusi dan menjelaskan kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa.
5. Siswa melakukan diskusi kelompok guru mengamati.
6. Tiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya.
7. Guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan.
II. Pertemuan II (dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 1 Februari 2011)
Kegiatan yang dilaksanakan pada pertemuan II siklus 2 ini adalah sebagai berikut:
1. Guru menyiapkan alat peraga.
2. Guru mendemonstrasikan cara menjumlahkan bilangan pecahan campuran dengan bilangan pecahan campuran memakai alat peraga.
3. Guru menugaskan pada siswa secara bergiliran untuk menjumlahkan bilangan pecahan campuran dengan bilangan pecahan campuran.
4. Tanya jawab tentang penjumlahan pecahan campuran denganpecahan campuran
5. Guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan.
6. Siswa mengerjakan soal-soal posttest.
7. dialog dengan teman sejawat (pengamat)
c. Pengamatan.
Selama proses pembelajaran peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa dan pengamat(kolaborator) melakukan pengamatan terhadap peneliti dan siswa saat melaksanakan pembelajaran, situasi proses pembelajaran, dan hasil belajar.
d. Refleksi.
Kegiatan refleksi ini peneliti memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan perasaannya saat mengikuti pembelajaran. Peneliti juga memberi kesempatan kepada guru kolaborator (pengamat) untuk memberi masukan tentang kekurangan yang terjadi saat proses pembelajaran.

C. Tehnik Pengumpulan dan Analisis Data.
1. Tehnik Pengumpulan Data.
Tehnik pengumpulan data yang dilakukan ada cara yaitu; test unjuk kerja, observasi, dan wawancara.
a. Test unjuk kerja.
Test adalah ujian tertulis, lisan, atau wawancara untuk mengetahui pengetahuan, kemampuan, bakat, dan kepribadian seseorang (KBBI, 2001 : 1186).
Yang dimaksud test unjuk kerja dalam penelitian ini yaitu siswa diberi tugas secara tertulis maupun praktik. Test unjuk kerja dilakukan untuk mengatahui kemampuan setelah siswa mengikuti proses pembelajaran pada setiap siklus.
b. Observasi.
Hal yang diamati dalam penelitian ini antara lain kondisi dan partisipasi siswa saat mengikuti proses pembelajaran dan nilai yang diperoleh siswa. Selain siswa juga guru terutama persiapan dan kemampuan guru dalam membelajarkan bahannya.
c. Wawancara
Wawancara dilakukan oleh peneliti kepada siswa untuk meneliti bagaimana minat dan pengalaman siswa saat mengikuti pembelajaran. Wawancara juga dilakukan dengan pengamat (kolaborator) untuk dimintai pendapat atau informasi tentang proses pembelajaran dan minat siswa selama mengikuti pembelajaran.

2. Alat Pengumpulan Data
Alat atau instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri atas beberapa instrumen yaitu :
a. Butir soal tes unjuk kerja.
Berupa test kemampuan awal tentang materi penjumlahan bilangan pecahan. Soal test di akhir setiap siklus untuk mengetahui kemampuan penguasaan bahan tersebut setelah diberi tindakan
b. Lembar observasi
Berupa lembar refleksi siswa dan lembar pengamatan pengamat yang digunakan untuk mengamati proses kegiatan pembelajaran.
c. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara berupa pertanyaan-pertanyaan untuk wawancara dengan siswa dan pengamat mengenai proses pembelajaran yang telah berlangsung.
3. Validasi Data.
Validasi data yang berupa proses pembelajaran dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada siswa dan pengamat (kolaborator) dengan menggunakan berbagai instrumen. Dengan demikian validasi proses pembelajaran diperoleh melalui triangulasi sumber dan triangulasi metode.
4. Analisis Data.
Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah analisis data hasil belajar. Hasil belajar dianalisis dengan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan hasil kemampuan awal dengan nilai kemampuan setelah mengetahui test pada siklus 1 maupun siklus 2. Analisis data hasil observasi dan wawancara.
Hasil observasi dan wawancara dianalisis dengan deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi terhadap pembelajaran,untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa secara klasikal
5. Indikator keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah: 75% dari jumlah siswa telah lulus KKM materi Perkembangan wilayah Indonesia yaitu 75 dengan nilai rata-rata kelas 75.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penulis telah melakukan perbaikan pembelajaran sebanyak dua siklus. Selanjutnya disampaikan hasil perbaikan pada masing-masing siklus. Penyampaian hasil penelitian pada masing-masing siklus akan mencakup penilaian penampilan perbaikan pembelajaran dan hasil belajar siswa. Dikembangkan dari konsep pengukuran asesmen (Zainul & Mulyana,dikutip Sunaryo, 2007) penilaian penampilan perbaikan pembelajaran menggunakan alat ukur rating scale dan pengukuran prestasi belajar siswa dengan tes formatif.

A. Deskripsi Per Siklus
Pada setiap siklus disajikan data hasil observasi aktivitas-aktivitas perbaikan pembelajaran yang dilakukan, hasil belajar siswa sesuai dengan hasil tes formatif, deskripsi pelaksanaan tiap-tiap aktivitas, dan deskripsi hasil belajar siswa.
1. Siklus I
Secara umum dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran berjalan dengan cukup baik, dengan nilai rata-rata 3,6 (dalam skala 1-5) dan prestasi belajar siswa cukup, dengan nilai 79,28(dalam skala 1-100).
a. Hasil Pengolahan Data
Hasil belajar siswa dalam perbaikan pembelajaran matematika di kelas V SDN Bismo Kecamatan Blado Kabupaten Batang siklus I dengan rata-rata 79,28 dengan prosentase ketuntasan 82 %
2. Siklus II
Hasil belajar siswa dalam perbaikan pembelajaran matematika di Kelas V SDN Bismo Kecamatan Blado Kabupaten Batang siklus II dengan rata-rata 85,00 dan prosentase ketuntasan 97 %

B. Pembahasan Hasil Penelitian Per Siklus
Dari data kualitas pelaksanaan perbaikan pembelajaran dan hasil tes formatif siswa yang ditemukan dalam penelitian di Kelas V SD Negeri Bismo, dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran meningkat dan karena itu prestasi belajar siswa juga meningkat. Pelaksanaan perbaiakan pembelajaran berjalan dengan cukup baik, dengan nilai 3,6 (skala 1-5) pada siklus I dan meningkat menjadi baik, dengan nilai 4,3 (skala 1-5) pada siklus II. Prestasi belajar siswa meningkat dari kurang (nilai 58,57) sebelum perbaikan pembelajaran, menjadi cukup (nilai 79,28) pada perbaikan siklus I dan baik (nilai 85,00) pada siklus II.
Peningkatan prestasi belajar siswa Kelas V SD Negeri Bismo terjadi karena dalam perbaikan pembelajaran secara konsekuaen penulis melaksanakan aktivitas-aktivitas perbaikan yang telah dipilih dengan tepat.. Ketepatan pemilihan aktivitas-aktivitas perbaikan pembelajaran tampak dalam kesesuaian antara pelaksanaan masing-masing aktivitas dengan teori yang melandasinya. Ketepatan masing-masing aktivitas dapat dijelaskan seperti berikut ini :
1) Pemanfaatan Alat Peraga/ Media Pembelajaran
Media/alat peraga sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru sebagai mediator dan fasilitator. Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Dengan demikian media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral dalam pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran.
2) Keterlibatan siswa dalam demonstrasi/ dalam menggunakan alat peraga
Dalam penyajian materi pelajaran dapat dilakukan melalui peragaan, yaitu kegiatan memperagakan cara kerja, perilaku tertentu dan sejenisnya. Karena dengan demonstrasi / peragaan pembelajaran akan lebih jelas dan konkret sehingga menghindari verbalisme (pemahaman kata-kata), siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari, proses pembelajaran lebih menarik dan siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dan kenyataan dan mencoba melakukannya sendiri.
3) Pengaktifan siswa dalam latihan menggunakan alat peraga
Latihan atau penugasan adalah penyampaian pelajaran melalui pengulangan (repetisi) sampai bahan/materi itu dikuasai siswa. Metode ini sangat efektif untuk melatih ketrampilan dan untuk menyampaikan pengertian (Udin S. Winataputra, 2008). Selain itu metode ini juga untuk melatih kemandirian siswa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
4) Pemberian bimbingan pada siswa dalam menggunakan alat peraga
Dalam proses pembelajaran guru selalu memberikan motivasi dan bimbingan pada siswa agar semua siswa terlibat aktif. Kegiatan mengaktifkan siswa ternyata dapat memotivasi berpikir memecahkan masalah bersama. Terdapat hubungan antara tingkat motivasi siswa dan hasil belajar, baik hasil belajar pada suatu waktu tertentu maupun terhadap hasil belajar selanjutnya

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil-hasil penelitian yang di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan alat peraga bilangan pecahan dalam perbaikan pembelajaran matematika kompetensi penjumlahan bilangan pecahan campuran yang berpenyebut sama di Kelas V SD Negeri Bismo Kecamatan Blado, Kabupaten Batang dapat meningkatkan prestasi siswa dengan baik. Secara rinci :
1. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran berjalan berjalan cukup baik, dengan nilai 3,4 (dalam skala 1-5) pada siklus I, meningkat menjadi baik, dengan nilai 4,4 (skala 1-5) pada siklus II.
2. Prestasi belajar siswa meningkat dari kurang (nilai 58,57) pada pra perbaikan, menjadi cukup (nilai 79,28) pada siklus I dan baik (nilai 85,00) pada siklus II.
3. Prestasi belajar siswa meningkat melalui aktivitas-aktivitas: (1) pemanfaatan alat peraga/media pembelajaran, (2) penggunaan alat peraga dalam pembelajaran, (3) keterlibatan siswa dalam demonstrasi/dalam menggunakan alat peraga, (4) pengaktifan siswa dalam latihan menggunakan alat peraga, dan (5) pemberian bimbingan pada siswa dalam menggunakan alat peraga.

B. Saran
Bertolak dari hasil-hasil penelitian yang diperoleh, penulis menyampaikan saran kepada rekan-rekan guru. Dalam pembelajaran Matematika, supaya siswa mencapai prestasi belajar yang baik, guru hendaknya :
1. Memanfaatkan alat peraga/media pembelajaran
2. Menggunakan alat peraga dalam pembelajaran
3. Melibatkan siswa dalam demonstrasi/ dalam menggunakan alat peraga
4. Mengaktifkan siswa dalam latihan menggunakan alat peraga
5. Memberikan bimbingan pada siswa dalam menggunakan alat peraga
Selain itu, penulis menyarankan kepada rekan-rekan guru untuk mempelajari dan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kelasnya sendiri, karena terbukti PTK dapat memecahkan masalah yang kita hadapi dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Adapun pemahaman PTK ini bagi rekan-rekan guru dapat diperoleh melalui pertemuan KKG dengan mendengarkan sharing dari rekan-rekan guru yang telah paham dan telah melaksanakannya.

Calendar

February 2011
M T W T F S S
« Nov   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Tags

Recent Comments